MBAH SOEROWIDJOJO

"ANAK BAGUS TINDAK PUNDI? SELAMET, SLAMET!"
"ANAK AYU TINDAK PUNDI? SELAMET, SLAMET!"

Asal Usul

Mbah Soerowidjojo

Desa Wates memiliki salah satu ikon yang dikenal oleh berbagai kalangan. Ada makam Mbah Soerowidjojo, yang menjadi daya tarik peziarah dari berbagai kota. Setiap tahun selalu digelar haul untuk mendoakan dan mengenang jasa-jasa beliau semasa hidupnya di Desa Wates hingga masa awal kemerdekaan bangsa Indonesia.

Mbah Soerowidjojo merupakan pendatang dari wilayah Wonosobo Jawa Tengah. Beliau adalah satu dari empat bersaudara, yaitu

  1. Mbah Yunus
  2. Mbah Soerowidjojo
  3. Mbah Gabuk (saudara perempuan)
  4. Mbah Mat Yatim.

Mbah Soerowidjojo datang mengembara dari wonosobo menuju Desa Wates ditemani oleh saudara bungsu yang bernama Mbah Mat Yatim. Beliau datang di Wates pada Tahun 1900-an. Beliau hidup di Wates sejak zaman penjajahan Belanda sampai awal kemerdekaan Republik Indonesia.
Dari empat saudara Mbah Soerowidjojo tersebut, 2 orang berdomisili di wilayah Wonosobo dan yang 1 orang ikut Mbah Soerowidjojo hidup di Wates. Sangat minimnya literasi yang berkaitan dengan asal usul Mbah Soerowidjojo di masa itu.
Ada salah satu sumber menyebutkan bahwa Mbah Soerowidjojo adalah keturunan dari prajurit Pangeran Diponegoro. Ada juga versi yang menyebutkan bahwa Mbah Soerowidjojo adalah pelarian dari prajurit Keraton Solo.

HAUL & KAROMAH

Mbah Soerowidjojo

HAUL

Haul Mbah Soerowidjojo dilaksanakan pada setiap malam Jumat Kliwon pada Bulan Maulud setiap tahun-nya. Acara diisi dengan hajatan dan kenduri yang dihadiri oleh tokoh masyarakat Desa Wates pada waktu itu.

Berdasarkan penuturan salah satu tokoh yang ikut dalam acara haul Mbah Soerowidjojo yang masih hidup hingga kini yaitu Mbah Karmo Samingan, acara kegiatan haul Mbah Soerowidjojo dipimpin oleh Mbah Parto Japar selaku juru hajat prosesi genduri pada haul Mbah Soerowidjojo dari tahun 1957 – 1989 Masehi. Kegiatan tersebut merupakan bentuk penghormatan atas pengayoman Mbah Soerowidjojo kepada masyarakat sekitar sampai sepeninggalnya.

Pada periode ke-dua ini, kegiatan peringatan haul Mbah Soerowidjojo dilaksanakan masih seperti kegiatan ditahun-tahun sebelumnya yaitu acara selamatan kenduri.  Yang membedakan kegiatan haul dipimpin oleh juru hajat yang bernama Mbah Wagirin yang ditugaskan memimpin hajatan dari tahun 1989 – 1999 Masehi. Acara genduri dilaksanakan masih sama seperti haul di masa sebelumnya.

Peringatan haul Mbah Soerowidjojo pada masa periode ketiga ini dipimpin oleh juru hajat yang bernama Mbah Mad Ndra’i. Beliau salah satu tokoh yang ikut mendampingi dan bertemu langsung dengan masa hidupnya Mbah Soerowidjojo. Periode ke-tiga, peringatan haul Mbah Soerowidjojo mulai ada penambahan-penambahan kegiatan dan tidak hanya kenduri saja melainkan ada kegiatan pagelaran wayang kulit yang di gelar di area makam Mbah Soerowidjojo.

Pelaksanaan peringatan haul Mbah Soerowidjojo pada periode ke-empat dipimpin oleh juru hajat yang bernama Mbah Karmo Samingan. Pada masa periode ke-empat peringatan haul diisi dengan kegiatan genduri, pagelaran wayang kulit dan pembacaan yasin tahlil. Pengunjung acara haul Mbah Soerowidjojo dari masa ke masa jumlahnya terus bertambah dan dari berbagai kalangan, mulai dari kaum abangan, kaum kejawen, pedagang, pengusaha yang berasal bukan hanya dari daerah Wates saja melainkan berasal dari luar kota hingga luar pulau seperti pengunjung yang datang dari Kalimantan.

Peringatan haul Mbah Soerowidjojo pada periode ke-lima di pimpin oleh juru hajat kenduri yang bernama Mbah Tarji. Kegiatan yang diselenggarakan diperiode ini masih mengacu kepada periode sebelumnya yaitu kenduri, tahlil, dan pegelaran wayang kulit. Jumlah pengunjung yang hadir pun masih sama di dominasi dari kalangan abangan hingga santri dan juga pengusaha. Dan tidak cukup sampai disitu pengunjung makam Mbah Soerowidjojo di masa ini juga dari tokoh-tokoh pemerintah.

Ada perbedaan mencolok pada peringatan haul periode ke-enam ini. Yaitu acara genduri dipimpin oleh juru hajat yang bukan berasal dari warga Wates, melainkan berasal dari wilayah Malang. Juru hajat periode ini adalah Bapak Sutikno dari Purworejo Kecamatan Donomulyo Malang Selatan. Beliau memang aktif menghadiri acara haul Mbah Soerowidjojo dari masa ke masa. Beliau dating tidak sendiri melainkan bersama-sama rombongan dari Malang salah satunya pengusaha tebu yang sukses bernama Pranoto. Acar haul periode ini lebih beragam karena acara di isi dengan genduri yang diawali pembacaan ayat-ayat suci Al Qur’an pada pagi harinya dan dilanjut acara kenduri. Kemudian malam harinya acara kenduri ke-dua dengan jumlah yang hadir lebih banyak dan lebih beragam dari berbagai latar belakang pekerjaan dan latar belakang keyakinan serta aliran yang berbeda. Pagelaran wayang kulit melekat kuat sehingga hampir disetiap acara haul diselenggarakan. Pada periode akhir ini yaitu di tahun ke 66 dari meninggalnya Mbah Soerowidjojo juga ada penampilan seni campursari dari group lokal desa Wates yang merupakan binaan dari tokoh seni yang aktif mencari berkah dimakam Mbah Soerowidjojo.

KAROMAH

Suatu ketika Mbah Soerowidjojo kedatangan tamu yang rumahnya jauh, dan saat pulang kondisi cuaca hujan lebat. Saat hendak pulang Mbah Soerowidjojo mengambil sebuah kerikil dan diberikan kepada tamu beliau. Pesan beliau Mbah Soerowidjojo kepada tamunya”kerikill iki ngko aja di ceblokne sakdurunge teko omah” artinya “bawalah kerikil ini dan jangan di jatuhkan sebelum kamu sampai rumah”. Akhirnya dibawalah kerikil tersebut sampai rumah sang tamu dan dengan kuasa Allah tamu tersebut tidak tekena air hujan sampai tiba di rumah.

Mbah Soerowidjojo hidup dimasa penjajahan Jepang. Beliau datang di Desa Wates dari daerah asalnya Wonosobo Jawa Tengah dimasa penjajahan Belanda sampai masa penjajahan Jepang hingga masa kemerdekaan. Pada waktu itu jepang mulai masuk di daerah Wates tahun 1942-1943 M. Ketika penjajah Jepang masuk ke wilayah Wates Mbah Soerowidjojo dengan kemampuan spiritualnya memasang batok kelapa di depan rumahnya dengan posisi tengkurap. Dan dengan lantaran batok kelapa tersebut berdasarkan cerita dari sang cucu Bapak Didi dimasa itu wilayah sekitar lingkungan hidup Mbah Soerowidjojo tidak diketahui keberadaannya oleh penjajah Jepang.

Pada suatu hari Mbah Soerowidjojo kedatangan tamu kurang kebih 6 orang lebih, dan pada saat itu air yang tersisisa di dalam cerek seharusnya hanya tinggal mencukupi untuk 1-2 orang tamu saja. Namun pada waktu itu air yang tersisa di dalam cerek mampu mencukupi gelas yang disuguhkan kepada semua tamu bahkan masih tersisa.

Berdasarkan cerita dari sang cucu Bapak Didi yang saat ini masih hidup dan bertempat tinggal di Dusun Wates Desa Wates Kecamatan Wates Kabupaten Blitar, bahwa Mbah Soerowidjojo sering sekali kedatangan tamu dari berbagai kalangan. Tamu yang datang mulai dari kalangan masyarakat biasa, pejabat hingga Gubernur dan juga sering beliau menerima tamu dari makhluk yang tidak kasat mata. Hal tersebut dibuktikan dengan peristiwa pada saat itu tamu datang silih berganti  tiada henti.

 Di saat tertentu beliau menyampaikan kepada tamu bahwa ketika sudah cukup semua hajat dan keperluannya para tamu di beritahu oleh Mbah Soerowidjojo “Lek ne sampun manga enggal dipun cekapi keranten tamu lintune sampun nunggu” artinya “Kalau sudah cukup ayo segera bergegas karena tamu yang lain sudah menunggu”. Padahal pada saat itu tidak ada tamu yang datang atau tidak terlihat orang yang akan masuk rumah kediaman beliau. Akhirnya Mbah Soerowidjojo menjelaskan “Tamu sing mboten ketawis bade dateng” artinya “tamu yang tidak terlihat akan datang”.

Mbah Soerowidjojo terkenal dengan perilaku sabar didalam kehidupan sehari-hari. Pada suatu ketika Mbah Soerowidjojo pernah melakukan pertapa yang dilakukan disebuah jamban rumahnya tepatnta dibelakang rumah beliau tepatnya dibelakang sebelah pojok timur sebelah utara dari makam saat ini. Dikala bertapa Mbah Soerowidjojo melakukan sesuatu yang diluar nalar masyarakat awam pada umumnya. Beliau duduk di dalam jamban dengan menutupi kepalanya dengan sebuah “cikrak” atau alat untuk mengumpulkan sampah.

Menurut penuturan warga dan orang yang dulu ikut beliau, bahwa Mbah Soerowidjojo rela dirinya dijadikan tempat dudukan bagi warga yang buang hajat selama beberapa waktu dengan tujuan untuk melakukan ujian kesabaran hingga rela menjadi sesuatu yag sangat hina menjadi tembat pijakan buang hajat.

WhatsApp
Messenger
Jual Nanas
Messenger
WhatsApp
Jual Nanas